Sabtu, 09 April 2011

Makalah Cara kerja dan penanganan di lab Kimia
BAB I
PENDAHULUAN


Bekerja dalam laboratorium tak lepas dari kemungkinan bahaya dari berbegai jenis bahan kimia. Pemahaman mengenai berbagai aspek bahaya dalam laboratorium, memungkinkan para pekerja dalam menciptakan keselamatan dan kesehatan kerja.
Laboratorium adalah suatu pasilitas yang memberikan hasil uji yang bergantung pada batasan-batasan fisik dan ekonomi daya beli, peraturan-peraturan, kebutuhun industri keluhan diri pribadi dan tuntutan dan pabrikindustri.
Ada beberapa faktor yang terlibat di dalam kalibrasi pengukuran dan pengujian adalah
• Pegawai atau staf
• Peralatan
• Akomodasi lingkungan
• Metodelogi
• Sample
• Pengolahan data
Laboratorium juga diartikan sebagai suatu lingkungan kerja yang komplek yang potensial untuk terjadinya ekspuls untuk terkena berbagai macam kecelakaan yang patogen (mikroba yang bahaya), api, bahaya, mekanik, substansi atau zat-zat radioaktif.
Penggunaan laboratorium yang aman ada 2 syarat
• Memerlukan pengetahuan tentang zat atau bahan yang berbahaya di laborarorium
• Memerlukan pengetahuan yang benar tentang prosedur-prosedur yang terperinci untuk menghilangkan bahan-bahan yang berbahaya.


BAB II
BAHAYA DI LABORATORIUM

Bekerja dilaboratorium selalu ada kemungkinan terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu sikap dan tingkah laku pekerja, keadaan yang tidak aman dan kelalaian pengawas serta bahan kimia dan peralatan. kecelakaan dapat dihindari dengan cara bekerja secara hati-hati dan disiplin mengikuti peraturan yang umum ditetapkan didalam laboratorium.
a) Sikap dan tingkah laku para pekerja
Sikap dan tingkah laku pekerja yang kemungkinan bahaya dan akan memakai alat pelindung diri, menempati urutan pertama sebagai penyebab kecelakaan sikap dan tingkah laku demikian sering dimiliki oleh para pekerja yang belum banyak pengalaman di dalam laboratorium. Dalam dunia pendidikan, hal demikian wring terjadi pada praktikum-praktikum mahasiswa tingkat pertama dan kedua mungkin pula pada tingkat yang lebih tinggi.
b) Keadaan yang tidak aman
Keadaan yang tidak aman dapat disebabkan oleh bahan, alat dan teknis. Bekerja dengan gas hidrogen sulfida, asam siarfida atau metil isosianat, adalah contoh keadaan yang tidak aman kerena bahan tersebut sewaktu-waktu dapat menimbulkan pencemaran ruangan kerja atau lingkungan.keadaan meniadi lebih tidak aman seandainya alat ventilasi ruangan, almari asam atau sistem pengaman gas (scrubber) lidak bekerja dengan baik. Kesalahan teknik juga merupakan suatu keadaan yang tidak aman. Seperti pemanasan eter atau asaton dengan api terbuka atau melakukan reaksi kimia eksotermis tanpa pendinginan.
c) Supervisor (pengawas)
Pengawas juga memegang peranan penting. Prosedur dan cara kerja perlu diberikan oleh pengawas secara jelas dan sempurna sebelum dikejakan oleh para pelaksana. Juga sangat penting pengetahuan pengawas untuk mengetahui setiap kemungkinan (mengantisipasi) bahaya yang timbul dari suatu bahan dan percobaan kimia.


A. Jenis-jenis bahaya di laboratorium
1. Keracunan
Keracunan sebagai akibat penyarapan bahan-bahan kimia beracun atau toksik, seperti amonia, karbon monoksida, benzeyona, kloroform dan sebagainya. Keracunan dapat berakibat fatal ataupun gangguan kesehatan. Keracunan pada manusia dapat terjadi apabila zat racun tertelan ,lewat kulit atau terhisap, oleh karma itu bekerja di laboratorium harus lah menggunakan pelindung pernafasan ( masker), pelindung mata ( kaca mata khusus), pelindung tangan ( sarung tangan) dan pelindung tubuh ( jas Lab)

2. Iritasi
Iritasi sebagai akibat kontak dengan bahan kimia korosif seperti H2SO4, HCI, natrium. hidroksida, gas C1 dan sebagainya. Iritasi dapat berupa luka atau peradangan pada kulit saluran pernafasan dan mata.
3. Kebakaran dan luka bakar
Kebakaran dan luka bakar sebagai akibat kurang hati- hati dalam menangani pelarut-pelarut organik yang mudah terbakar seperti eter, aseton, alkohol sbb.
Kebakaran dapat timbul oleh adanya bunga api, panas atau loncatan listrik clan dengan adanya oksigen serta bahan bakar. Bila kebakaran terjadi saat api masih kecil dapat di lakukan pemadaman menggunakan pemadam tertentu sesuai dengan jenis kebakaran nya.
Kebakaran di lab dapat di kelompok kan menjadi:
• kebakaran kertas, kayu, karet, plastik, dan scjenis nya dapat di atasi dengan menggunakan air yang berfungsi sebagai pcndingin dan untuk menye limuti bahan dari oksigen.
• Kebakaran pelarut organik seperti benzena, toluene dan eter dapat padamkan dengan menggunakan busa. Busa adalah dispersi gas dalam cairan yang berfungsi untuk mengisolasi bahan dari oksigen.
• Kebakaran instalasi listrik yang dapat di atasi dengan menggunakan gas CO2 dan halon (CF3Br).
• Kebakaran logam –lagam alkali seperti kalium dan natrium. Dapat di atasi dengan menggunakan Nbuk kering campumn natrium karbonat,kalium klorida, kalium karbonat, dan amonium fosfat. Selain itu kebakaran ini dapat di atasi dengan menggunakan CO2 dan halon.

4. Merusak kulit
Bahan- bahan yang merusak kulit:
  • Asam – asam kuat :H2SO4, HNC3, HCL clan HF
  • Basa- basa kuat : Naoh , KOH
  • Asam dan baa lemah : Ch3COOh , ( COOH)2 NH4 OH
  • Lain- lain : H2 O2 pekat, brom cair, dan lain-lain
Hindari kulit, mata, dan bagian tubuh lain dari bahan – bahan kimia ini. Pada saat mengambil cairan dari dalam botol, jangan sampai ada zat yang tercecer dari dalam botol. Mengambil zat tidak boleh di hisap dengan mulut melain kan dengan karet penghisap.
5. Bahaya-bahaya lain
Seperti sengatan listrik, keterpaan pada radiasi sinar tertentu,dan pencemaran lingkungun. Jadi, jelas laboratorium kimia mengandung banyak potensi bahaya, tetapi potensi bahaya apapun dapat di kendalikan sehingga tidak menimbul kan kerugian. Suatu contoh, bahan bakar bensin dan gas cair mempunyai potensi bahaya kebakaran yang sangat besar.

B. Sumber-sumber bahaya dalam laboratorium kimia
1. Bahan- bahan kimia yang berbahaya, yang perlu kita kenal jenis, sifat, cara penanganan dan penyimpanan nya. Contoh nya: bahan kimia beracun, mudah terbakar, eksplusif, dan sebagai nya.
2. Teknik percobaan, yang meliputi pencampuran bahan, destilasi, ekstraksi, reaksi kimia, dan sebagai nya
3. Sarana laboratorium, yakni gas, air, listrik, dan sebagai nya.

C. Bahan-bahan Kimia dan Cara Pcnanggulangannya
Untuk memudah kan cara menangani dan menangani bahan kimia, bahan-bahan kimia yang berbahaya dapat di kategori kan sebagai berikut:
a) bahan -- bahan kimia beracun atau toksik(toxic subtances)
Pada dasar nya semua bahan kimia adalah beracun, tetapi bahayanya terhadap kesehatan sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk kedalam tubuh. Dalam Iaboratorium, bahan- bahan kimia dapat masuk kedalam tubuh melewati tiga saluran yakni:
1. Mulut atau tertelan. Hal ini jarang terjadi kecuali apabila ada kesalahan memipet dengan mulut atau makan dan minum dalam lab.
2. Melalui kulit,zat- zat seperti avilin, nitrobenzene, penol, paration, dan asam sianida atau HCN mudah terserap.
3. Melalui pernafasan. Gas, debu, dan nap mudah terserap lawat pernafasan dan saluran ini merupakan sebagian besar kasus keracunan yang terjadi. Gas- gas seperti sulfurdioksida (S02) dan CL2 dapat mernberikan efek setempet pada jalan pernafasan. Tetapi gas- gas seperti HCN, CO2, H2S nap Pb dan Zn yang telah terserap lewat pernafasan akan segera masuk dalam darah dan terdistribusi keseluruh organ- organ tubuh
b) Efek akut dan kronis
efek toksik bagi tubuh manusia terbagi dua yakni akut dan kronis. Efek akut adalah pengaruh sejumlah dosis tertentu yang akibat nya dapat di lihat atau di rasakan dalam waktu pendek contoh nya keracunan fenol dapat menyebab kan diare dan keracunan gas CO dapat menimbulkan hilang kesadaran atau kematian dalam waktu pendek.
Kronis adalah suatu akibat keracuinan bahan- bahan kimia dalam dosis kecil tetapi terus menerus dan efek nya baru dapat di rasakan dalam jangka panjang. Menghirup uap benzena dan senyawa hidrokarbon terklorinasi (seperti kloroform, karbon tetraklorida ) dalam keadaan rendah tetapi terus-menerus akan menimbulkan penyakit hati atau lever. Demikian pula uap timbal akan menimbulkan kerusakan dalam darah.

D. Bohan- Bahan Kimia Korosif / iritant
Bahan kimia dapat di kelompok kan sesuai dengan wujud zat yaitu
a. Bahan korosif cair.
Dapat menimbulkan iritasi setempat sebagai akibat reaksi langsung dengan kulit, proses kelarutan atau denakurasi protein pada kulit atau akibat gangguan kesetimbangan membran dan tekanan osmosa pada kulit. Pengaruh iritasi akan bergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak dengan kulit. Asam sulfas pekat dapat menimbulkan luka yang sukar dipulihkan.
Contoh bahan korosif cair adalah
  • Asam mineral
  • Asam nitrat
  • Asam sulfas
  • Asam klorida
  • Asam fluorida
  • Asam fospat
  • Asam organik
  • Asam forniat
  • Asam asetat
  • Asam monokloro asetat
• Pelarut organik :
  1. Petroleum, karbon disulfide
  2. Hidrokarbon terklorinasi, terpentin

b. Bahan kimia korosif padat
Iritasi yang ditimbulkan oleh zat padat korosif amat bergantung pada kelarutan zat pada Wit yang lumbar. Sifat korosif dan pangs yang ditimbulkan akibat proses pelarutan adalah penyebab iritasi. Meskipun zat padat korosif kurang bahaya dibandingkan dengan bentuk cair, tetapi larutan pekat dan dispersi zat padat dalam cair (slaty) mempunyai bahaya yang lebih besar.
Cara penanganan bahah kimia korosif padat mirip bentuk cairnya, yakni mencegah kontak dengan bahan dengan cara memakai pelindung diri (sarung tangan, kaca mats, dsb)

c. Bahan korosi bentuk gas
Bentuk gas mcrupakan yang paling berbahaya dibandingkan dengan bentuk padat dan dalam bentuk cair karena yang diserang adalah saluran pernafasan. Kelarutan gas dalam permukaan salaran yang Iembab atau lender menentukan bahaya gas tersebut disamping jenis zat. Suatu contoh, gas amonia bila terhisap akan menyebabkan pembekakan pada bagian atas saluran pernafasan yang mungkin dapat menimbulkan kematian. Hal ini berbeda dengan fosgen yang meskipun sedikit dapat menimbulkan iritasi, tetapi dapat menyebabkan kecelakaan fatal arena dapat merusak sel udara dalam paruparu. Gas klor mempunyai sifat bahaya diantara amonia clan fosgen.
Jenis gas iretant dapat digolongkan pada besar kecilnya kelarutan yang juga menentukan daerah-daerah serangan pada alat pernafasan. Golongan tersebut adalah sebagai berikut
Amat larut, dengan daerah serangan pada bagian alas saluran pernafasan
Contoh : amonia, asam klorida, asam florida, formal dehid, asam asetat, sulful klorida,tionil klorida dan sulfuril klorida.
Kelarutan sedang. Efek pada saiduran pernafasan bagian atas dan yang lebih dalam (bronchia) : belerang oksida, klor, brom, arsentriklorida, fosfor triklorida dan fosfor penta klorida.
Kelarutan kecil, tetapi efeknya pada alat pernafasan bagian. dalam : ozon, nitrogen.
Efek iritasi oleh mekanisme bukan pelarutan : akrolein, dikloroetilsulfida, diklorometileter, kloropikrin dan, dimetil sulfat.
Kelompok terakhir merupakan keanehan di banding kan dengan tiga kelompok yang yang sebelumnya. Contoh aklorin dan dimetilsulfat sedikit larut dalm air, tatapi sangat iritant terhadap mata dan saluran pernafasan.

E. Bahan Kimia Yang Mudah Terbakar ( Flammable Subtances)
Meskipun kebakaran tidak hanya terjadi dalam laboratarium kimia, tetapi laboratorium kimia mempunyai kemungkinan besar untuk terjadi nya kebakaran. Hal ini di sebab kan selain ada nya penggunaan listrik dan pemanas lain juga banyaknya dipakai bahan kimia yang mudah terbakar atau menimbul kan kebakaran. Memang di indonesia sampai saat ini baru beberapa kali terjadi kebakaran besar dalam laboratorium kimia. Tetapi kebakaran kecil menimbul kan kepanikan dan kecelakan sering terjadi dalam lab kimia.
Untuk dapat menghindar kan terjadi nya kebakaran perlu kira nya dapat di hayati proses terjadi kebakaran, bahan kimia mudah terbakar, dan cara penanggulangan kebakaran.
1. Proses kebakaran atau terjadi nya api
Banyak kemungkinan pekerjaan dan percobaan lab yang dapat menimbul kan kebakaran beberapa kemungkinan tersebut kadang kala dapat di perkirakan kalau kita dapat memahami teori terjadi nya api yang di sebut segi tiga api.
Ada bahan yang mudah terbakar dengan oksigen, tetapi apabila suhu tidak cukup tinngi, maka api atau proses kebakaran tidak akan terjadi. Dengan demikian pula pada bahan panas, tetapi bila oksigen tidak cukup, api pun tidak akan terjadi dengan demikian, usaha untuk menghindar kan terjadi nya api, pada prinsip nya menghindara kan salah satu dari unsur tersebut di atas.
2. Jenis- jenis bahan kimia yang mudah terbakar.
Kebanyakan bahann kimia yang mudah terbakar dalam laboratorium dapat di golong kan menjadi tiga golongan yakni :
a. padat belerang, fosfor merah dan kuning, hidrida logam, logam alkali, dll
tekanan yang terlepas atau dadakan selain itu ciri khas bahaya utama adalah kebocoran yang akan mengeluarkan gas dalam waktu amat pendek.

10. Bahan- bahan kimia radioaktif.
Bahan kimia radioktif adalah bahan kimia yang dapat mengantar kan radiasi sinar alfa, beta atau gams zat radioaktif banyak di pakai dalam lab sebagai bahan untuk sintesis dan analisis. Dapat pula di pakai dalam pengobatan. Sinar gama mempunyai energi clan daya tembus yang lcbih besar dari pada sinar beta, lebih kuat dari pada sinar alfa. Sinar- sinar radiasi tersebut dapat mengganggu atau merusak sel- sel tubuh.
Bahaya radiasi dapat pula berasal dari dalm tubuh. Hat ini terjadi karena masuk nya zat- zat radioaktif lewat paru- paru (berupa cap atau debu ) mulut atu kulit. Dalam hal ini bahan pemancar radiasi alfa dan beta adalah sudah cukup berbahaya, karena dapat beredar keseluruh tubuh lewat peredaran darah atau beraklimulasi dengan organ- organ tertentu, bergantung pada jenis zat.


LABEL DAN PENYIMPANAN BAHAN KIMIA.
Cara penyimpanan bahan kimia memerlukan pengetahuan dasar akan sifat bahaya serta kemungkinan interaksi antar bahan serta kondisi yang mempengaruhi nya. Tanpa memperhatikan semua faktor tersebut dapat mengakibatkan kebakaran, ledakan, keracunan atau kombinasi di antara kemungkinan ketiga akibat tersebut


BAB III
SYARAT-SYARAT PENYERAHAN BAHAN

1. Pengaruh panas atau api
Kenaikan suhu akan menyebabk-an reaksi atau perubahan kimia terjadi dan mernpercepat reaksi. Juga percikan api berbahaya untuk bahan-bahan yang mudah terbakar
2. Pengaruh kelembaban
zat-zat higroskopis, mudah menyerap uap air dan Udara dan reaksi hidrasi yang eksotermis dan menimbulkan pemanasan ruang.
3. Interaksi dengan wadah
Bahan kimia dapat berintekrasi dengan wadahnya dan bocor
4. Interaksi antara bahan
5. Kemungkinan dapat menimbulkan ledakan, kebakaran, atau timbulnya gas beracum.

Alat-Alat Pemadam Kebakaran
Pada prinsipnya pemadam kebakaran berfungsi salah satu atau lebih kriteria berikut :
1. menurunkan suhu bahan yang terbakar
2. mengurangi kontak dengan oksigen
3. mengurangi redikal penyebab reaksi berantat

Jervis Pemadam Kebakaran
a. Air
Air berfungsi sebagal pendingin dan menyelimuti bahan dan O2 oleh, adanya uap air yang terbentuk. pemadam air amat baik untuk
  1. Kebakaran kertas, kayu, karet, dsb (kelas A).
  2. Jika kebakaran pelarut organik (kelas B) tidak di anjurkan menggunkan air karea akan memperbesar kobaran api, kecuali pelarut organik yang larut dalam air .
  3. Kebakaran akibat listrik (kelas C) aliran listrik harus dipadamkan terlebih dahulu karena akan menimbulkan hubungan pendek.
  4. Kebakaran logam alkali dari alkali tariah (kelas D) tidak di dianjurkan memakai air

b. Busa
Adalah disperse gas dalam cairan, berfungsi mengisolasi bahan dan oksigen untuk kelas (A) atau kebakaran biasa kelas B atau kebakaran pelarut organic
c. Bubuk busa berfungsi :
  1. Melindungi bahan dari 02
  2. Melindungi bahan dari radiasi panas
  3. Menyerap radikal pembentuk reaksi lantai
Jenis pemadam ini baik untuk kelas A, B dan D. Kelemahan dari pemadam ini tidak efektif untuk tempat berangin. Karena dapat dapat timbul kembali setelah dipadamkan.
d. Gas CO2
Gas CO2 bertekanan tinggi, jenis pemadam ini sangat baik untuk segala jenis kebakaran (segala kelas). Karna mengisolasi bahan dari 02. Kelemahan jenis ini dapat terjadi penyalaan kembali
c. Halon
Suatu senyawa hidrokarbon yang terhalogenasi, dengan baik untuk kebakaran segala kelas, lebih praktis clan CO2 karma mempunyai volume yang lebih kecil.

Peralatan pemadam kebakaran diatas harus tersedia dalam suatu lab kimia, mengingat sangat banyaknya kemungkinan kebakaran. Namun hal yang sangat penting adalah bahwa para pekerja atau mahasiswa yang bekerja dalam lab harus mengetahui letak pemadam kebakaran dan cara operasinya.

  • Alat-Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri berfungsi mengisolasi tubuh pekerja terhadap keterpaan bahan kimia berbahaya. Beberapa peralatan pelindung diri yang minimal diperlukan adalah :
  • Pakaian kerja atau jas laboratorium
Berfungsi sebagai pelindung tubuh atau Pakaian dari kontak dengan bahan kimia atau panas.
  • Kaca mata dan goggles
Untuk bekerja dalam lab karena amat rawan terhadap percikan asam, basa atau terhadap pecahan kaca atau. gelas.
  • Alat pelindung pernafasan
Sebagai pelindung masuknya bahan-bahan kimia beracun atau korosif lewat saluran pernafasan.
  • Sarung tangan
Untuk menangam bahan-bahan kimia yang panas.



BAB IV
PENUTUP


A. KESIMPULAN
Dalam bekerja dilaboratorium kimia, hal yang paling utama yang perlu diperhatikan adalah ketelitian dan kewaspadaan karna kecerobohan dan keteledoran tentu saja dapat mengundang segala resiko yang mungkin bisa saja terjadi. Laboratorium kimia merupakan sarana penting untuk pendidikan, penelitian, pelayanan, uji mutu atau qualiti control.
Kecelakaan dapat disebahkan oleh
  • Sikap dan tingkah laku para pekerja
  • Keadaan yang tidak aman
  • kurang pengawasan dari pihak pengawas (supervisor)
Banyak sekali jenis – jenis bahaya yang sering menimbulkan kecelakaan dalam laboratorium kima adalah sebagai berikut
Keracunan
Iritasi
Kebakaran
Luka bakar
Luka kulit, dll
Keadaan yang aman dalam laboratorium, dapat diciptakan apabila ada kemauan dari setiap pekerja atau kelompok pekerja untuk menjaga dan melindungi diri. Selain itu, perlu pula dipahami tentang alat pelindung diri serta cara penaggulangannya bila terjadi kecelakaan.

B. Saran
Demi keselamatan individual maupun bersama maka sebelum bekerja didalam laboratorium kimia, hendaklah terlebih dahulu memperhatikan hal –hal apa saja yang perlu dilakukan kemudian jangan melalaikan tata tertib praktikum, karena apa – apa saja yang tertulis pada tata tertib praktikum perlu diperhatikan dan dilaksanakan dengan balk, hal ini bertujuan untuk mencegah kemungkinan – kemungkinan resiko atau bahaya yang bisa saja terjadi, karena mencegah lebih balk dari pada. mengobati ". Dan dengan kehati - hatian serta pengetahuan akan teknik kerja yang benar, laboratorium bukanlah tempat yang berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA

Imam Khasani, Soemanto. Keselamatan kerja dalam laborium kimia. Jakarta:PT Gramedia
Nazarudin & Afrida.2002. Penuntun Praktikum Kimia dasar. Unja

0 comments:

Poskan Komentar